SEATTLE, 20 Juni 2026 – Mimpi Tim Nasional Amerika Serikat untuk menjadi juara Piala Dunia 2026 mungkin terdengar ambisius, tetapi situasi saat ini menunjukkan bahwa target tersebut bukanlah sesuatu yang mustahil.
Di bawah arahan pelatih Mauricio Pochettino, Amerika Serikat tampil meyakinkan sepanjang fase grup. Kemenangan 2-0 atas Australia memastikan mereka lolos ke babak gugur lebih awal. Bahkan, pencapaian meraih dua kemenangan dalam dua laga awal grup merupakan sesuatu yang belum pernah dicapai AS sejak Piala Dunia 1930.
Pochettino sendiri tidak menutupi ambisinya. Pelatih asal Argentina itu berulang kali menegaskan bahwa para pemainnya harus memiliki keyakinan bahwa mereka mampu menjuarai turnamen, bukan sekadar lolos fase grup atau mencapai perempat final. Menurutnya, mental juara harus dibangun sejak awal agar tim mampu bersaing dengan negara-negara elite dunia.
Selain kualitas skuad yang semakin matang, faktor tuan rumah menjadi keuntungan besar bagi Amerika Serikat. Dukungan puluhan ribu suporter di stadion, minimnya tekanan perjalanan dibanding negara lain, serta adaptasi terhadap kondisi lapangan dan cuaca menjadi modal yang tidak dimiliki sebagian besar peserta turnamen. Sejarah juga menunjukkan bahwa negara tuan rumah kerap tampil melampaui ekspektasi dalam Piala Dunia.
Generasi pemain yang dimiliki AS saat ini juga dianggap sebagai salah satu yang terbaik dalam sejarah mereka. Nama-nama seperti Christian Pulisic, Folarin Balogun, Ricardo Pepi, Tyler Adams, hingga Alex Freeman memberikan kombinasi pengalaman dan energi muda yang menjanjikan. Bahkan ketika Pulisic absen karena cedera, tim tetap mampu tampil dominan dan mengamankan kemenangan penting.
Tentu saja, jalan menuju trofi masih sangat panjang. Amerika Serikat tetap harus menghadapi raksasa-raksasa sepak bola seperti Argentina, Prancis, Brasil, Spanyol, Inggris, atau Portugal yang memiliki tradisi lebih kuat di panggung dunia. Namun dengan performa yang ditunjukkan sejauh ini, keyakinan yang ditanamkan Pochettino, serta keuntungan bermain di kandang sendiri, mimpi menjadi juara dunia tidak lagi terdengar sebagai angan-angan semata.
Jika mampu menjaga konsistensi permainan dan mengatasi tekanan di fase gugur, Amerika Serikat berpeluang mencatat sejarah terbesar dalam sepak bola mereka dengan melangkah lebih jauh daripada pencapaian semifinal pada edisi 1930. Untuk saat ini, mimpi itu masih hidup dan semakin masuk akal untuk diperjuangkan.






