Jakarta, 27 Mei 2026 – Penentuan tanggal Idul Adha umumnya dianggap lebih cepat dan jarang menimbulkan perbedaan dibanding penetapan Idul Fitri. Fenomena ini kerap memunculkan pertanyaan di masyarakat mengenai alasan di balik perbedaan proses penetapan dua hari besar Islam tersebut. Para ahli falak dan ulama menjelaskan bahwa penetapan Iduladha biasanya lebih mudah karena berkaitan erat dengan jadwal pelaksanaan ibadah haji di Arab Saudi yang sudah ditentukan lebih awal. Sementara itu, penentuan Idulfitri sering lebih kompleks karena bergantung pada hasil pemantauan hilal atau bulan baru di akhir Ramadan yang kadang sulit terlihat akibat kondisi cuaca maupun posisi astronomis bulan. Faktor inilah yang membuat Idulfitri lebih sering memunculkan perbedaan penetapan di berbagai negara maupun organisasi keagamaan.
Dalam kalender Islam, Iduladha jatuh pada 10 Zulhijah dan berkaitan langsung dengan rangkaian ibadah haji di Tanah Suci. Karena ibadah wukuf di Arafah memiliki jadwal yang sudah dipastikan pemerintah Arab Saudi, banyak negara termasuk Indonesia menjadikan informasi tersebut sebagai salah satu acuan penting dalam menentukan Iduladha. Selain itu, posisi hilal pada bulan Zulhijah biasanya dinilai lebih mudah diamati dibanding hilal Syawal yang menentukan Idulfitri. Pengamat astronomi Islam menyebut kondisi cuaca dan posisi bulan saat akhir Ramadan sering berada pada titik kritis sehingga memunculkan perbedaan metode hisab dan rukyat di berbagai pihak. Karena itu, penentuan Idulfitri sering membutuhkan sidang isbat dan proses pengamatan lebih intensif dibanding Iduladha.
Perbedaan lain juga terletak pada faktor sosial dan ibadah yang berkaitan dengan kedua hari raya tersebut. Idulfitri menjadi penanda berakhirnya ibadah puasa Ramadan yang dijalani umat Islam secara serentak selama sebulan penuh. Karena itu, kepastian waktunya sangat dinantikan masyarakat dan menjadi perhatian besar di berbagai negara. Sementara Iduladha lebih berkaitan dengan momentum ibadah kurban dan pelaksanaan haji yang pusat pelaksanaannya berada di Arab Saudi. Faktor tersebut membuat penetapan Iduladha cenderung lebih cepat memperoleh kesepahaman di tingkat internasional dibanding Idulfitri yang sangat dipengaruhi hasil pengamatan lokal.
Pengamat kajian Islam menilai perbedaan metode penentuan kalender Hijriah sebenarnya merupakan bagian dari dinamika ilmu falak dan tradisi keagamaan yang sudah berlangsung lama. Sebagian organisasi menggunakan metode hisab atau perhitungan astronomi, sementara pihak lain tetap mengutamakan rukyat atau pengamatan langsung hilal. Di Indonesia, pemerintah biasanya menggabungkan kedua pendekatan tersebut melalui sidang isbat yang melibatkan ulama, ahli astronomi, dan perwakilan organisasi Islam. Meski kadang terjadi perbedaan penetapan hari raya, para ulama mengingatkan masyarakat agar tetap menjaga toleransi dan menghormati perbedaan pandangan dalam persoalan fikih. Semangat persatuan dan saling menghargai dinilai lebih penting dalam menyikapi perbedaan penetapan kalender Islam.
Penjelasan mengenai perbedaan penentuan Iduladha dan Idulfitri diharapkan dapat membantu masyarakat memahami proses penetapan hari besar Islam secara lebih utuh. Banyak ahli menilai perkembangan teknologi astronomi sebenarnya semakin membantu proses perhitungan kalender Hijriah menjadi lebih akurat. Namun faktor cuaca, metode penafsiran, dan tradisi keagamaan tetap memengaruhi hasil penetapan di berbagai negara. Karena itu, dialog dan pemahaman antarumat Islam dinilai penting agar perbedaan yang muncul tidak menjadi sumber perpecahan. Dengan sikap saling menghormati, umat Islam diharapkan dapat tetap menjaga kebersamaan dalam menjalankan ibadah dan merayakan hari besar keagamaan.






