Jakarta, 13 Agustus 2026 – Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas menyoroti maraknya disinformasi yang beredar melalui media sosial dan meminta media massa terus menjalankan peran sebagai sumber informasi yang dapat dipercaya masyarakat. Menurut Zulhas, perkembangan teknologi digital membuat informasi dapat menyebar dengan sangat cepat tanpa selalu melalui proses pemeriksaan yang memadai. Kondisi tersebut dapat membuat masyarakat kesulitan membedakan informasi yang benar, keliru, maupun sengaja dibuat untuk menyesatkan. Karena itu, media dinilai memiliki tanggung jawab penting untuk menghadirkan pemberitaan yang berdasarkan fakta dan memberikan pemahaman yang utuh kepada publik. Peran tersebut semakin penting di tengah meningkatnya penggunaan media sosial sebagai sumber informasi sehari-hari.
Zulhas menilai media massa memiliki posisi strategis dalam membantu masyarakat memahami berbagai persoalan yang berkembang di tengah kehidupan sosial dan pemerintahan. Ketika informasi yang beredar di media sosial semakin beragam, masyarakat membutuhkan sumber yang dapat memberikan konteks serta penjelasan secara lebih mendalam. Media tidak hanya dituntut menyampaikan peristiwa, tetapi juga memastikan informasi yang diberikan telah melalui proses verifikasi. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya memperoleh kabar terbaru, tetapi juga memahami latar belakang dan dampak dari suatu peristiwa. Kehadiran media yang kredibel dinilai dapat menjadi penyeimbang terhadap arus informasi yang tidak terverifikasi di ruang digital.
Maraknya disinformasi juga dapat menimbulkan dampak yang lebih luas apabila masyarakat langsung mempercayai dan menyebarkannya. Informasi yang keliru mengenai kebijakan pemerintah, kondisi ekonomi, kesehatan, maupun berbagai persoalan sosial dapat memicu kesalahpahaman. Dalam situasi tertentu, informasi yang tidak benar bahkan dapat menimbulkan kepanikan dan memengaruhi keputusan masyarakat. Karena itu, kemampuan melakukan pemeriksaan terhadap informasi menjadi semakin penting. Media massa dapat membantu dengan memberikan penjelasan berdasarkan data dan menghadirkan narasumber yang memiliki kompetensi terhadap persoalan yang sedang dibahas.
Perubahan pola konsumsi informasi membuat tantangan media juga semakin besar. Masyarakat kini dapat memperoleh informasi melalui berbagai platform hanya dalam hitungan detik, sementara proses jurnalistik membutuhkan waktu untuk memastikan kebenaran suatu informasi. Tekanan untuk menjadi yang pertama menyampaikan berita tidak seharusnya menghilangkan prinsip akurasi. Kecepatan tetap penting, tetapi kualitas dan ketepatan informasi harus menjadi prioritas. Media yang mampu menjaga keseimbangan antara kecepatan, akurasi, dan kedalaman pemberitaan akan memiliki peran lebih besar dalam membangun kepercayaan publik.
Di sisi lain, masyarakat juga memiliki tanggung jawab dalam menghadapi derasnya arus informasi digital. Pengguna media sosial perlu membiasakan diri memeriksa informasi sebelum membagikannya kepada orang lain. Judul yang provokatif atau potongan video yang tidak memiliki konteks lengkap tidak dapat langsung dijadikan dasar untuk menarik kesimpulan. Kebiasaan membaca informasi dari sumber yang kredibel dan membandingkan berbagai pemberitaan dapat membantu mengurangi risiko terpengaruh disinformasi. Literasi digital menjadi semakin penting karena setiap pengguna media sosial memiliki kemampuan untuk menyebarkan informasi kepada banyak orang.
Zulhas berharap media dapat terus menjalankan fungsi edukasi sekaligus memberikan informasi yang mencerahkan kepada masyarakat. Pemberitaan yang berkualitas tidak hanya menyampaikan apa yang terjadi, tetapi juga membantu publik memahami mengapa sebuah peristiwa terjadi dan bagaimana dampaknya. Dalam konteks kebijakan pemerintah, media dapat membantu menjelaskan substansi kebijakan dengan bahasa yang mudah dipahami tanpa menghilangkan akurasi. Pendekatan tersebut dapat mengurangi ruang bagi informasi yang menyesatkan untuk berkembang. Media juga dapat menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat melalui pemberitaan yang berimbang.
Peran media dalam menghadapi disinformasi tidak berarti harus mengabaikan fungsi kontrol terhadap pemerintah maupun lembaga publik. Independensi dan sikap kritis tetap menjadi bagian penting dari kerja jurnalistik. Informasi yang mencerahkan justru harus dibangun melalui proses verifikasi, keberimbangan, dan keberanian menguji berbagai pernyataan dengan fakta yang tersedia. Dengan prinsip tersebut, masyarakat dapat memperoleh informasi yang tidak hanya cepat, tetapi juga dapat dipertanggungjawabkan. Kepercayaan publik terhadap media pada akhirnya akan sangat bergantung pada konsistensi dalam mempertahankan standar tersebut.
Pernyataan Zulhas mengenai maraknya disinformasi di media sosial menunjukkan bahwa tantangan informasi di era digital tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga kemampuan masyarakat dalam memilah informasi. Media massa diharapkan terus memperkuat fungsi jurnalistiknya dengan menghadirkan berita yang akurat, berimbang, dan memberikan konteks kepada publik. Pada saat yang sama, masyarakat perlu meningkatkan literasi digital agar tidak mudah mempercayai maupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Kolaborasi antara media, pemerintah, platform digital, dan masyarakat diperlukan untuk menciptakan ekosistem informasi yang lebih sehat. Dengan arus informasi yang semakin cepat, kehadiran pemberitaan yang mencerahkan menjadi semakin penting untuk membantu masyarakat mengambil keputusan berdasarkan fakta.







