Kairo, 28 September 2026 – Liga Arab dan Mesir mengecam peningkatan tindakan Israel di wilayah Palestina yang diduduki, termasuk Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Pernyataan yang disampaikan pada Minggu (27/9) itu menyoroti peningkatan langkah militer, penutupan akses, serta pembatasan pergerakan warga Palestina. Kedua pihak juga menyampaikan kekhawatiran terhadap perkembangan di kompleks Masjid Al-Aqsa. Mereka memperingatkan bahwa situasi tersebut berpotensi meningkatkan ketegangan di wilayah Palestina.
Sekretariat Jenderal Liga Arab menyatakan kekhawatiran terhadap pengetatan langkah keamanan di Tepi Barat, termasuk penutupan jalan, gerbang, dan pos pemeriksaan. Menurut organisasi tersebut, pembatasan itu menghambat warga Palestina menuju tempat kerja maupun tempat ibadah. Liga Arab menyebut sejumlah langkah tersebut berlangsung bertepatan dengan periode hari raya Yahudi. Organisasi regional itu meminta agar hak masyarakat Palestina untuk bergerak dan beribadah tetap dihormati.
Liga Arab juga menyoroti perkembangan di kompleks Masjid Al-Aqsa setelah muncul informasi mengenai uji coba membawa buku doa Yahudi atau Siddur ke kawasan tersebut. Organisasi itu menilai langkah tersebut berpotensi menciptakan praktik baru yang dapat memengaruhi status historis dan hukum kompleks Al-Aqsa. Liga Arab juga menyinggung aktivitas keagamaan serta masuknya sejumlah benda ke area kompleks. Pernyataan tersebut menegaskan penolakan Liga Arab terhadap perubahan sepihak terhadap pengaturan yang berlaku di situs suci tersebut.
Secara terpisah, Kementerian Luar Negeri Mesir mengecam apa yang disebutnya sebagai eskalasi berkelanjutan Israel di Tepi Barat serta penerobosan berulang oleh pemukim Israel ke kompleks Al-Aqsa dengan perlindungan polisi Israel. Kairo juga menyoroti pembatasan terhadap pergerakan warga Palestina. Pemerintah Mesir memperingatkan bahwa tindakan tersebut dapat memperburuk kondisi di wilayah Palestina. Mesir menyerukan penghentian langkah-langkah sepihak yang dinilainya dapat meningkatkan ketegangan.
Mesir turut menyatakan penolakannya terhadap pernyataan sejumlah pejabat Israel yang menyerukan perluasan operasi di Tepi Barat dan pelemahan Otoritas Palestina. Pemerintah Mesir meminta semua pihak menghormati status historis dan hukum yang berlaku di Yerusalem. Kairo juga kembali menyatakan dukungannya terhadap pembentukan negara Palestina merdeka berdasarkan garis 4 Juni 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota. Posisi tersebut merupakan bagian dari kebijakan diplomatik Mesir mengenai penyelesaian konflik Israel-Palestina.
Liga Arab pada saat yang sama meminta komunitas internasional, khususnya Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, mengambil langkah terkait perkembangan tersebut. Organisasi itu menyerukan penghentian tindakan yang menurutnya melanggar hak masyarakat Palestina, termasuk kebebasan beribadah. Liga Arab juga menekankan pentingnya mempertahankan status historis dan hukum situs-situs suci Islam dan Kristen di Yerusalem Timur. Seruan tersebut muncul di tengah meningkatnya perhatian terhadap situasi keamanan di Tepi Barat dan kawasan Al-Aqsa.
Pernyataan Liga Arab dan Mesir menambah rangkaian respons diplomatik terhadap perkembangan terbaru di wilayah Palestina. Fokus utama keduanya adalah mencegah perubahan sepihak di Yerusalem dan mengurangi langkah yang berpotensi memperluas ketegangan di Tepi Barat. Mesir kembali mendorong penyelesaian politik berdasarkan solusi dua negara, sementara Liga Arab meminta keterlibatan lebih kuat dari komunitas internasional. Perkembangan di lapangan tetap menjadi perhatian karena pembatasan pergerakan dan ketegangan di sekitar tempat-tempat suci berpotensi memengaruhi situasi keamanan secara lebih luas.





